RSS

KONSELING ALDERIAN

01 Mei

BIOGRAFI


ALFRED ADLER (1870-1937) adalah anak ketiga dari sebuah keluarga yang terdiri dari lima anak laki-laki dan dua anak perempuan. Seorang saudara laki-lakinya meninggal waktu masih kanak-kanak. Masa kanak-kanak Adler bukanlah masa yang bahagia, oleh karena ia sakit-sakitan dan sangat sadar akan datangnya maut. Pada usia empat tahun ia hamper saja meninggal karena radang paru-paru, dan pada saat itu pula dia berkeputusan untuk menjadi dokter.

Oleh karena pada tahun-tahun kehidupannya dia sering menderita sakit, Adler dimanjakan oleh ibunya. Di kemudian hari dia tidak dimanja lagi karena kehadiran adik laki-laki yang lebih diperhatikan oleh ibunya. Nampaknya dia mengembangkan hubungan saling percaya dengan ayahnya dan tidak merasa dekat dengan ibunya. Dia merasa iri terhadap adeknya, yang menyebabkan terjadinya pertentangan-pertentangan selama masa kanak-kanak dan masa adolsen. Masa kanak-kanaknya diwarnai dengan perjuangan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan masa kanak-kanak dan rasa rendah diri. Jelas bahwa pengalaman dalam keluarga ini member dampak pada teori-teorinya. Meskipun demikian dia merupakan eladan dari orang yang meembentuk kehidupannya sendiri sebagai lawan dari orang yang ditentukan oleh jalan nasibnya.

Adler adalah seorang pelajar yang tidak pandai dan gurunya menyarankan kepada ayahnya bahwa profesi yang layak baginya adalah tidak lebih dari seotang tukang sepatu. Dengan niat yang membaja pada akhirnya Adler naik ke jenjang juara kelas. Dia melanjutkan studinya ke Fakultas Kedokteran Universitas Vienna, buka praktek dokter swasta sebagai spesialis mata (opdthalmologist). Akhirnya mengambil spesialisasi syaraf (neurology) dan psikiatri dan minatnya sangat besar akan penyakit anak-anak yang tidak bisa disembuhkan.

Adler sangat peduli terhadap orang kebanyakan. Minat sosialnya diungkapkan melalui sikapnya yang vocal terhadap praktek membesarkan anak-anak, reformasi sekolah dan prasangka yang menyebabkan timbulnya konflik. Gaya bahasa dalam berbicara serta menulis hang digunakannya adalah sederhana serta non teknik sehingga orang mudah mencerna serta mengaplikasikan Psikologi individualnya. Setelah berdinas dalam Perang Dunia I sebagai Perwira Kesehatan dia ciptakan banyak klinik bimbingan anak-anak di sekolah-sekolah umum dan mulai melatih guru-guru, pekerja sosial, dokter-dokter serta tenaga-tenaga profesional yang lain. Dia merintis praktek mengajar para profesional melalui demonstrasi hidup dengan orang tua dan anak-anak di hadapan hadirin yang besar jumlahnya. Jumlah klinik yang diciptakannya tumbuh pesat dan makin populer dan dia pun tiada jemu-jemunya mengajar serta mendemonstrasikan karyanya.

Adler hidup dengan jadwal kerja yang kelewat padat, namun masih bisa menyempatkan diri untuk menyanyi, berrmain musik dan bergembira diantara teman sejawatnya. Dia mengesampingkan nasihat sahabatnya untuk sedikit mengurangi kegiatannya. Pada pertengahan tahun 1920 dia mulai mengajar di Amerika Serikat, serta di kemudian hari sering melakukan kunjungan serta perjalanan keliling. Jadwalnya yang ketat terus-terus berlanjut, pada tanggal 28 Mei 1937, waktu sedang berjalan-jalan sebelum memberikan kuliah yang sudah dijadwalkan di Aberdeen, dia roboh dan meninggal karena serangan jantung.

A. SEJARAH KONSELING ADLERIAN

Bersama Freud dan Jung, Adler merupakan penyumbang utama dari pengembangan pendekatan psikodinamika pada terapi. Setelah bekerja sama selama delapan sampai sepuluh tahun Freud dan Adler berpisah. Freud menyatakan bahwa Adler adalah seorang yang murtad dan telah mweninggalkannya. Adler meletkkan sebagai ketua masyarakat psikoanalitik Viena pada tahun 1911 dan pada tahun 1912. Mendirikan masyarakat psikologi individual. Freud kemudian berketetapan bahwa ia  mungkin menunjang konsep Adler dan tetap Berjaya sebagai psikoanalisis

Dikemudian hari, sejumlah psikoanalisis membelot dari posisi orthdox Freud. Kelompok revisionis Freud ini, termasuk Karen Horney KeAdler menekankan adanya kesatuan pada kepribadian, dengan penekanan bahwa manusia itu bisa dipahami sebagai makhluk yang terintegrasi dan lengkap. Pandangan ini menekankan sifat perilaku yang memiliki tujuan dengan keyakinan bahwa arah yang kita tujuh jauh lebih penting daripada dari mana kita berasal. Kita dilihat sebagai pelaku dan pencipta dari kehidupan kita dan kita mengembangkan gaya hidup yang unik sebagai suatu ungkapan dari sasaran hidup kita. Kita mencuptakan diri kita sendiri dan bukan diciptakan oleh pengalaman kita di masa kanak-kanak.

Sepeninggal Adler pada tahun 1937, Rudolf Dreikurs merupakan tokoh yang paling signifikan yang membawa psikologi Adler ke Amerika Serikat, terutama oleh karena prinsipnya yang diterapkan pada pendididkan dan terapi kelompok. Dreikurs dianggap berjasa sebagai pemberi semangat pada gagasan diadakannya pusat bimbingan anak-anak dan pemberian latihan pada kelompok professional untuk menangani beraneka ragam klien.

B. KONSEP KONSELING ADLERIAN

1. PANDANGAN TENTANG SIFAT-SIFAT MANUSIA

Adler meninggalkan teori dasar oleh Freud oleh karena ia percaya bahwa penekanan Freud pada ketentuan biologis dan insting sangatlah sempit. Adler percaya bahwa apa yang terjadi pada diri seorang individu di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh enam tahun pertama kehidupan. Fokus Adler tidaklah sekedar pada menggalin peristiwa di masa lalu; melainkan ia tertarik pada persepsi seseorang pada masa lalu dan bagaimana interpretasinya pada masa lalu itu memiliki pengaruh yang berkelanjutan. Banyak dasar-dasar teori Adler yang bertolak belakang dengan Freud. Misalnya saja, manusia itu bermotivasi pertama-tama oleh dorongan social dan bukan oleh dorongan seksual. Bagi Adler, perilaku itu memiliki suatu maksud dan terarah pada suatu sasaran. Kesadaran dan bukan ketidaksadaran yang merupakan pusat dari kepribadian. Tidak seperti Freud, Adler memberikan tekanan pada penetuan suatu pilihan dan pertanggungjawaban, makna hidup dan perjuangan untuk mencapai sukses atau kesempurnaan.

Dari perspektif adler manusia tidaklah sekedar ditentukan oleh keturunan dan lingkungan, melainkan oleh kemampuan mereka untuk menginterpretasi, mempengaruhi serta menciptakan peristiwa. Adler percaya bahwa isu sentralnya bukanlah apa yang kita bawa pada saat kita lahir. Yang krusial adalah apa yang kita perbuat dengan kemampuan yang kita miliki. Penganut aliran Adler mengakui bahwa kondisi biologis dan lingkungan membatasi kemampuan kita untuk menentukan pilihan serta berkreasi. Meskipun mereka menolak sikap deterministiknya Freud mereka tidak terus melangkah ke pendapat yang lebih ekstrim yaitu dengan mengatakan bahwa manusia bisa menjadi apa saja yang dia mau.

2. PERSEPSI SUBYEKTIF TENTANG REALITAS

Penganut adler berusaha untuk melihat dunia dari kerangka referensi subyektif si klien, suatu orientasi yang dinyatakan seientasi yang dinyatakan sebagai fenomenologis. Sebutan fenomenologis diberikan karena orientasi ini menaruh perhatian pada cara individual dimana seseorang  melihat dunianya. “realitas subyektif” ini mencakup persepsi keyakinan dan kesimpulan individu melihat dunianya. “realitas subyektif” ini mencakup persepsi keyakinan dan kesimpulan individual. Perilaku dipahami daridual. Perilaku dipahami dari segi segi yang menguntungkan dari perspektif kognitif. Bagaimana hidup ini dalam realitas itu kurang penting kalau dibandingkan dengan apa yang oleh seseorang individu percaya tentang hidup ini.

3. KESATUAN SERTA POLA KEPRIBADIAN MANUSIA

Suatu primis dasar dari pendekatan adler juga disebutpsikologi individual, adalah bahwa kepribadian bisa dipahami sebagai satu kesatuan yang tak bisa dibagi-bagi. Tonggak pancang psikologi Adler adalah asumsinya bahwa manusia adalah suatu makhluk sosial, kreatif, pengambil keputusan yang memiliki maksud terpadu (Sherman & Dinkmeyer, 1987). Pribadi manusia menjadi terpadu lewat tujuan hidup. Pikiran, perasaan kepercayaan, keyakinan, sikap, watak, dan perbuatan merupakan ungkapan dari keunikan dirinya, dan semuanya mencerminkan rencana hidup yang memberi peluang akan perjalanan menuju tujuan kehidupan yang telah dipilihnya sendiri. Implikasi dari pandangan holistik dari kepribadian ini adalah bahwa seorang klien adalah suatu bagian integral dari sistem sosial. Fokusnya lebih diarahkan pada hubungan interpersonal daripada psikodinamika internal si individu.

 

a. Perilaku sebagai yang meiliki tujuan dan berorientasi pada sasaran.

Psikologi individual berasumsi bahwa semua perilaku manusia itu memiliki maksud. Adler menggantikan penjelasan yang deterministic menjadi teleological (bertujuan dan berorientasi pada sasaran). Asumsi dasar dari Psikologi Individual adalah bahwa kemana kita pergi dan apa yang kita perjuangkan merupakan hal yang krusial. Maka, penganut aliran Adler tertarik pada masa depan, tanpa mengecilkan arti pentingnya pengaruh masa silam. Mereka berasumsi bahwa keputusan itu didasarkan pada pengalaman orang di masa lampau, pada situasi masa kini dan pada arah kemana orang mau pergi. Mereka mencari kesinambungan dengan jalan memperhatikan tema-tema yang berlaku dalam diri kehidupan seseorang.

Penganut aliran Adler menggunakan istilah finalisme fiksional yang berarti sasaran sentral yang ada dalam angan-angan yang membimbing perilaku seseorang. Adler dipengaruhi oleh pandangan filosof Hans Vaihinger bahwa orang itu hidup dari suatu fiksi (atau pandangan tentang bagaimana seharusnya dunia itu). Istilah finalisme berarti sifat akhir dari tujuan seseorang dan tendensi yang selalu ada untuk bergerak ke arah tertentu. Oleh karena adanya tujuan akhir ini kita mempunyai kekuatan kreatif untuk memilih apa yang akan bisa kita terima sebagai hal yang benar, bagaimana kita akan berperilaku dan bagaimana kita akan menginterpretasi suatu peristiwa.

 

b. Perjuangan untuk menjadi penting dan superioritas.

Adler menekankan bahwa perjuangan untuk mendpatkan kesempurnaan dan menangani inferioritas dengan jelas mendapatkan penguasaan adalah sifat bawaan (1979:29). Untuk bisa memahami perilaku manusia haruslah bisa memahami arti inferioritas dan kompensasi. Menurut Adler, saat kita mengalami inferioritas, kita didorong untuk berjuang mendapatkan superioritas. Dia berkeyakinan bahwa tujuan mendapatkan sukses mendorong orang kedepan menuju ke penguasaan dan menyebabkan orang itu mamu mengatasi hambatan. Tujuan untuk mendapatkan superioritas memberikan sumbangannya pada perkembangan masyarakat manusia. Namun perlu dicatat bahwa superioritas seperti yang digunakan Adler, bukanlah berarti lebih tinggi dari potensi yang dimiliki sebelumnya. Superioritas adalah perjuanagna dari derajat yang rendah ke yang lebih tinggi atau dari yang minus ke yang plus. Kita mengatasi perasaan ketidakberdayaan ke perjuanagan untuk mendapatkan kompetensi, penguasaan dan kesempurnaan.

 

c. Gaya hidup.

Istilah gaya hidup dipakai untuk menyatakan orientasi dasar seorang individu tentang hidup atau kepribadian dan tema yang mewarnai eksistensi si individu. Sinonimnya adalah perencanaan hidup, gerak hidup, strategi hidup dan peta jalan kehidupan. Melalui gaya hidup itulah kita bergerak menuju hidup kita. Adler melihat diri kita ini sebagai pelaku, pencipta serta artis hidup kita. Dalam perjuangan mengejar sasaran yang bermakna bagi kita, kita kembangkan gaya hidup yang unik (lain dari yang lain)(Anscabher,1974). Konsep ini membantu menjelaskan betapa semua perilaku kita cocok satu sama lain sehingga semua kegiatan kita menjadi konsisten. Memahami gaya hidup seseorang tidak bedanya seperti memahami gaya seorang composer lagu : “kita bisa memulai dari mana saja yang kita pilih : setiap ungkapan akan membawa kita ke arah yang sama menuju ke  motif yang satu, melodi yang satu, di sekitar mana kepribadian itu dibentuk (Adler,1964a:232).

Tidak ada satu oang pun yang mengembangkan gaya hidup yang sama dengan yang lain. Untuk bisa mencapai tujuan superioritas ada yang menegembangkan inteleknya; yang lain bakat artistiknya; yang lain lagi bakat atletiknya ; dan sebagainya. Gaya hidup ini terdiri dari pandangan orang tentang dirinya dan dunia dan perilaku mereka serta kebiasaan mereka yang distingtif pada saat mereka menge mengejar tujuan pribadi masing-masing.Apapun yang kita peruat diengaruhi oleh gaya hidup kita yang unik, yang diasumsikan sebagai terbentuk oleh keuatan-kekuatan selama enam tahun pertama kehidupan. Pengalaman dalam lingkungan keluarga serta dan hubungan antar saudara memiliki andil pada pembentukan gaya hidup (Sharman&Dinkmeyer, 1987). Tetapi bukanlah pengalaman masa kanak-kanak itu sendiri yang krusial; melainkan interpretasi kita sekarang ini terhadap peristiwa-peristiwa itu.

C. INTERES SOSIAL

Interes Sosial atau Gemeinschaftsgefuhl, mungkin onsep Adler yang paling signifikan dan istimewa (distinctive) (lain daripada yang lain). Iatilah itu berarti kesadaran individu akan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat manusia dan akan sikap seseorang dalam menangani dunia social; di dalamnya mencakup perjuangan untuk masa depan manusia yang lebih baik. Proses sosialisasai, yang dimulai pada masa kanak-kanak, mencakup pencarian tempat dalam masyarakatnya dan pemilikan rasa memiliki dan wajib ikut member sumbangannya (Kefir,1981). Adler menyamakan interes social dengan rasa identifikasi dan empati dengan orang lain : “melihat dari kaca mata orang lain, mendengar dengan telinga orang lain, merasakan dengan perasaan hati orang lain” (1972:42). Tingkat seberapa kita dengan sukses berbagi dengan orang lain merupakan ukuran kesehatan mental (Sherman & Dinkmeyer, 1987:12). Dari perspektif Adler pada saat interes social bisa berkembang, rasa rendah diri serta keterasingan individual hilang.

Psikolog individual bertumpu pada kepercayaan sentral bahwa kebahagiaan serta sukses kita itu sebagian besar ada hubungannyadengan keterkaitan social. Oleh karena itu bagian dari masyarakat, kita tidak bisa dipahami sebagai yang terpisah dari konteks social. Manusia mencari tempat dalam kalangan keluarga dan lingkungan social. Ada kebutuhan dasar untuk merasa aman, diterima dan berguna. Orang perlu untuk menemukan cara mereka yang unik untuk ikut menyumbang dan berbagi aktivitas serta tanggung jawab. Banyak dari problema yang kita alami ada hubungannya dengan rasa takut kalau kita tidak bisa diterima oleh kalangan ynag kita anggap bernilai. Kalau rasa ikut termasuk dalam suatu golongan (sense of belonging) tidak bisa dipenuhi, hasilnya adalah perasaan cemas. Hanya kalau kita memiliki sense of belonging itulah maka kita akan mampu dengan berani berbuat untuk menghadapi dan menangaini problema itu.

D. URUTAN-URUTAN KELAHIRAN DAN HUBUNGAN ADIK KAKAK.

Pendekatan Adler adalah unik dalam hal memberikan perhatian khusus kepada hubungan adik kakak dan posisi seseorang dalam satu keluarga. Adler mengidentifikasi lima posisi seseorang dalam satu keluarga. Adler mengidentifikasi lima posisi psikologis; sulung, kedua dari orang anak, di tengah, bungsu, dan anak tunggal. Perlu dicatat bahwa urutan kelahiran itu sendiri kurang penting jika dibandingkan dengan interpretasi individual tentang kedudukannya dalam keluarga Oleh karena penganut aliran Adler memandang sebagian besar problem manusia itu bersifat social, maka mereka memberi tekanan pada hubungan antar keluarga.

Adler (1958) mengamati bahwa banyak orang yang tidak habis pikir mengapa anak-anak dalam satu keluarga demikian besar berbeda. Adalah hal yang tidak benar untuk berasumsi bahwa anak-anak dari keluarga yang sama terbentuk dalam lingkungan yang sama. Meskipun mereka sama-sama memiliki aspek yang sama dalam konstelasi keluarga, situasi psikologi dari masing-masing anak tidak sama oleh karena urutan-urutan kelahiran mereka. Deskripsi tentang pengaruh urutan-urutan kelahiran berikut ini didasarkan pada teori Ansbacher dan Ansbacher (1964), Dreikurs(1953), dan Afler (1958) :

  1. Anak Sulung biasanya mendapatkan perhatian besar dan selama beberapa saat dia menjadi anak tunggal, dia sedikit dimanjakan sebagai pusat perhatian. Dia cenderung untuk bisa dipercaya dan pekerja kerasdan berusaha untuk bisa tetap di depan. Namun, apabila lahir adik laki-laki atau perempuan dia merasa dirinya tercampak keluar dari pusat perhatian. Dia tidak lagi unik atau istimewa. Dia mungkin siap untuk berpikir bahwa si pendatang baru (pengganggu) akan merebut cinta kasih yang selama ini dia sudah terbiasa mendapatkannya.
  2. Anak kedua ada pada posisi yang berbeda. Dari saat dilahirkan, perhatian yang diterima sama-psama dinikmati dengan anak lain . Biasanya anak kedua itu berlaku seperti ia selalu berlomba adu cepat dan selalu dalam kancah latihan untuk bisa lebih cepat dari kakaknya. Perjuangan yang kompetitif antara kedua anak ini member pengaruh pada kehidupannya di kemudian hari. Anak kedua ini mengembangkan sifat untuk mencari kelemahan kakaknya untuk selanjutnya maju dan mendapatkan pujian dari ayah bunda dan guru dengan mendapatkan sukses yang tidak bisa dicapai oleh kakaknya. Kalau yang satu ada bakat pada satu bidang, dia beruasaha untuk mendapatkan pengakuan dengan jalan mengembangkan kemmapuan di bidang lain. Anak kedua biasanya berlawanan dengan anak pertama.
  3. Anak di tengah sering merasa tersingkirkan. Dia ada kemungkinan merasa yakin tentang ketidak adilan hidup ini dan merasa dicurangi. Orang ini bisa mengambil sikap kasihan pada diri sendiri dan b isa menjadi “problem child”.
  4. Anak bungsu selalu menjadi buah hati keluarga dan cenderung untuk menjadi anak yang paling dimanja. Ia memiliki peranan istimewa, karena semua saudara-saudaranya telah mendahuluinya. Anak bungsu cenderung untuk mengembangkan sikap yang membuatnya seperti yang lain akan membangun hidupnya seperti dirinya. Anaka bungsu cenderung untuk mengambil jalan sendiri. Mereka sering mengembangkan cara yang tidak terpikirkan oleh keluarganya.
  5. Anak tunggal memiliki problemanya sendiri. Dia memiliki beberapa sifat seperti anak sulung. Dia tidak belajar berbagi rasa atau bekerjasama dengan anak-anak lain tetapi ia belajar bergaul dengan baik dengan orang dewasa. Anak tunggal biasanyan dimanjakan oleh ibunya, dan mugkin bisa sangat tergantung pada ibunya. Dia selalu ingin ada pusat perhatian dan apaabila kedudukan itu mendapat tantangan maka ia mersakannya sebagai ketidak adilan. Pada usia dewasa nanti apabila dia tidak lagi menjadi pusat perhatian dia cenderung untuk menemui banyak kesulitan.

Dalam terapi Adler menangani dinamika keluarga, terutama hubungan kakak beradik, memiliki perananan kunci. Meskipun menghindari pandangan stereotype seorang individu ke dalam satu kategori itu penting, pandangan itu ada juga manfaatnya untuk mengetahui betapa gejala kepribadian-kepribadian tertentu yang diawali pada masa kanak-kanak sebagai akibat dari persaingan anata saudara benar-benar menyediakan jalan yang bisa dilalui untuk mengikuti seseorang melewati sisa jalan hidupnya.

E. PROSES TERAPEUTIK

1. SASARAN TERAPEUTIK

Konseling aliran Adler berpijak pada suatu pengaturan kontrak dan kolaborasi antara klien dan konselor. Umumnya, kontrak itu menuntuk adanya identifikasi dan eksplorasi sasaran yang keliru diambil dan asumsi-asumsi yang keliru diikuti dengan reedukasi klien menuju kesasaran yang konstruktif. Tujuan dasar dari terapi adalah mengembangkan interest sosial klien, yang bisa dilaksanakan dengan jalan meningkatkan kesadaran pribadi, menantang serta memodifikasi primis-premis fundamental, tujuan hidup dan konsep dasar (Dreikurs, 1967).

Penganut aliran Adler tidak melihat klien sebagai orang yang “sakit” dan perlu “disembuhkan”. Melainkan, sasarannya adalah melakukan redukasi kepada klien sehingga mereka bisa hidup ditengah masyarakat sebagai anggota yang sederajat, yang mau memberi dan menerima dari orang lain (Mosak, 1989). Oleh karena itu proses konseling berfokuskan pada penyediaan informasi, mengajar, membimbing dan menawarkan dorongan semangat kepada klien yang kehilangan semangat. Dorongan semangat merupakan metode yang paling kuat yang bisa disediakan untuk mengubah keyakinan seseorang. Dorongan itu menolong klien membangun rasa percaya diri dan menstimulasi keberanian. Keberanian adalah kemauan untuk berbuat dengan cara-cara yang konsisten dengan kepentingan masyarakat. Hilangnya keberanian, atau kehilangan semangat akan menyebabkan terjadinya perilaku yang keliru dan kurang berfungsi.

Para konselor aliran Adler terlibat dalam penciptaan peta baru, oleh karena mereka sedang mendidik klien dalam hal cara baru untuk melihat diri mereka sendiri, orang lain: Peranan terapis diarahkan pada perluasan interest sosial individu, dengan menolongnya untuk mengatasi rasa rendah diri, dengan menolong individu memodifikasi sasarannya dan juga melatih klien dalam hal perberian sumbangan yang lebih besar dalam hubungan antar personal. Proses terapeutik, pada esensinya adalah bersifat mendidik seseorang yang berakibat si individu bisa bergerak maju secara nyata (Kefir, 1983:403).

Sebagai sasaran dari pandangan umum redukasi klien serta pemberian pertolongan pada klien mendapatkan nilai yang didasarkan pada interest sosial, Dreikurs (1967) mengindetifikasikan 4 sasaran proses terapeutik dan sejalan dengan empat fase terapi.

Keempat fase terapi itu adalah:

  1. Menciptakan dan tetap mempertahankan hubungan baik klien atau terapis.
  2. Mengindentifikasi dinamikan klien, termasuk gaya hidup dan tujuan hidup mereka dan betapa faktor-faktor ini mempengaruhinya.
  3. Memberikan interpretasi, yang menuju kewawasan diri
  4. Mencapai reorientasi dan reedukasi, atau menerjemahkan pemahaman menjadi perbuatan.

2. FUNGSI DAN PERANAN TERAPIS

Konselor penganut aliran Adler memberikan fokus pada aspek kognitif dari terapi. Mereka mengetahui bahwa klien secara emosional patah semangat dan fungsinya pada tingkat behavioral tidak efektif disebabkan oleh kognisi (keyakinan dan tujuan) yang salah. Mereka beropersi dengan asumsi bahwa klien akan merasa dan beperilaku lebih baek apabila mereka tahu apa yang salah dalam pemikiran mereka selama ini. Terapi cenderung untuk mencari kekeliruan berfikir dan memberi penilaian pada hal-hal seperti sikap tidak mempercayai, egoisme, ambisi yang tidak masuk akal, dan tidak memiliki rasa percaya.

Fungsi utama dari terapis adalah membuat penilaian dan komprehensif pada berfungsinya klien. Terapis mengumpulkan informasi tentang konstelasi keluarga klien yang mencakup orang tua, kakak adik dan orang lain yang ada didalam rumahnya. Ini dikerjakan lewat kuisioner (angket) yang apabila dirangkum dan diinterpretasikan informasi itu akan memberikan gambaran tentang kehidupan sosial si klien pada masa-masa kini pada kehidupannya. Dari informasi ini terapis bisa mendapatkan perspektif mengenai wilayah utama dari sukses serta kegagalan klien dan juga pengaruh yang kritis yang telah memberikan unsur penunjang pada peranan didunia ini yang oleh klien diputuskan untuk diambil. Konselor juga menggunakan kenangan-kenangan pada masa dini sebagai alat diagnosis. Kenangan-kenangan ini adalah yang berupa peristiwa tunggal dimasa kanak-kanak yang bisa kita awali kembali. Kenangan-kenangan itu merupakan pantulan dari apa yang terjadi di masa kini dan kita evaluasi serta pantulan dari sikap dan prasangka kita (Griffit & Powers, 1984). Kenangan-kenangan ini memberikan gambaran singkat tentang bagaimana kita melihat pada diri kita sendiri dan orang lain dan apa yang kita antisipatikan dimasa depan. Setelah kenangan-kenangan masa dini ini dirangkum dan diinterpretasikan maka terapispun mengidentifikasi beberapa dari suskes dan kekeliruan dalam hidup si klien. Tujuannnya adalah untuk menyediakan titik tolak dalam usaha-usaha terapeutik.

Dengan cara perangkuman, dalam hal pembuatan diagnostik, maka terapis melakukan hal-hal sebagai berikut: mereka mengambil sari pati pola utama yang nampak dalam kuisioner tentang konstelasi keluarga dan darinya diambil kesimpulan gambaran tentang kepribadian dasar si klien. Setelah itu dengan jalan menginterpretasi kenangan-kenangan dini merekapun memperoleh artu tentang pandangan hidup si klien sekarang. Aspek-aspek yang keliru dalam tinjauan hidup klien ini diidentifikasikan dengan membandingkan apa yang diyakini sekarang dengan kerangka konsep interest sosial. Setelah proses itu selesai konselor dan lainnya memiliki sasaran dan terapi (Guskurs, 1971).

3. PENGALAMAN KLIEN DALAM KEGIATAN TERAPI.

Klien dari konseling aliran Adler memfokuskan diri pada gaya hidup, yang menyiapkan pola dari perbuatan mereka. Bagaimana cara klien tetap mempertahakan cara hidup mereka, dan mengapa mereka menentang untuk mengubahnya? Umumnya, orang gagal untuk mengubah karena mereka tidak mengenal kesalahan dalam cara mereka berfikir dan berperilaku, tidak tahu yang apa yang harus mereka lakukan dan takut meninggalkan pola lama untuk diganti dengan yang baru yang hasil akhirnya nanti tidak bisa mereka ramalkan. Jadi, biarpun cara mereka berfikir dan berprilaku bukan merupakan hal yang berhasil, mereka cenderung untuk tetap bertahan pada pola yang telah mereka kenal (Manaster & Korsine, 1982).

Dalam kegiatan terapi klien menggali apa yang oleh aliran Adler disebut swa logika, konsep tentang self, tentang orang lain, dan hidup untuk membentuk falsafah yang mendasari gaya hidup individu. Problema klien muncul kepermukaan oleh karena kesimpulan yang didarkan pada swa logika mereka seiiring tidak sejalan dengan realitas kehidupan sosial yang ada. Inti dari pengalaman terapi terdiri dari kenyataan ditemukaannya oleh klien akan kekeliruannya yang mendasar dan kemudian belajar cara membetulkan asumsi-asumsi serta kesimpulan yang tidak benar ini.

Terapis aliran Adler memusatkan perhatiannya pada kepercayaan dan keyakinan yang mengakibatkan adanya ganguan emosional dan perilaku. Tidak benar jika orang mengatakan bahwa mengurangi peranan perasaan, melainkan perasaan dilihatnya sebagai akibat dari (dan bukan penyebab) jalan pemikiran dan kemudian perbuatan. Oleh karena emosi itu melayani proses kognitif kita yang terjadi kemudian adalah klien akan menghabiskan banyak waktunya untuk membahas pendapat, kepercayaan dan apa yang sedang mereka pada saat itu yang didasarkan pada kerangka konseptual mereka tentang hidup. Singkatnya, apabila klien mulai merasa lebih baik dan berbuat lebih baik, mereka harus belajar cara berfikir yang lebih baik. Selanjutnya oleh karena klien tidak dilihat oleh terapis sebagai “sakit”, tetapi hanyalah patah semangat, maka yang akan mereka terima adalah dorongan semangat yang akan memungkinkan terjadinya perubahan. Melalui proses terapeutik, mereka akan menemukan bahwa mereka memiliki sumber dan pilihan yang bisa dimanfaatkan dalam hal menangani isu-isu hidup dan tugas-tugas hidup.

4. HUBUNGAN ANTARA TERAPIS DAN KLIEN

Aliran Adler menganggap hubungan baik antara klien/terapis itu adalah yang keduanya berkedudukan sederajat  yang didasari pada kerjasama, saling percaya, saling menghormati, saling menjaga rahasia dan keselarasan sasaran. Mereka memberi nilai istimewa pada contoh berkomunikasi dan berbuat dengan penuh keyakinan yang diberikan oleh konselor. Dari permulaan kegiatan terapi terapi hubungannya sudah menampilkan sifat kerjasama, diwarnai oleh ulah dua orang yang bekerjasama dalam suasana kesamaan derajat menuju ke sasaran spesifik yang dikehendaki bersama. Dinkmeyer dan Sperry (1987) menyatakan bahwa sejak awal mula kegiatan konseling, seyogyanya klien mulai memformulasikan rencana atau kontrak, dengan merinci apa yang dimaui, rencana apa yang disusun untuk bisa sampai pada tempat yang di tuju, apa kendala yang mereka jumpai hingga tidak berhasil mencapai sasaran, bagaimana mereka bisa mengubah perilaku tidak produktif menjadi perilaku yang konstruktif, dan bagaimana mereka bisa memanfaatkan aset yang mereka miliki sebaik-baiknya untuk bisa mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Kontrak terapeutik menyatakan sasaran proses konseling dan memilah-milah tanggung jawab baik klien maupun terapis. Meskipun demikian, mengembangkan kontrak bukanlah tuntutan terapi Adler.

Klien tidak dipandang sebagai penerima yang pasif, melainkan klien adalah anggota dari kelompok yang aktif dalam hubungannya dengan kelompok lain yang sederajat dimana tidak ada pihak yang berkedudukan lebih tinggi dan ada yang berkedudukan lebih rendah. Melalui perserikatan yang sifatnya saling mengisi (kolaboratif) ini klien mengakui bahwa mereka bisa mempertanggungjawabkan perilaku mereka. Meskipun aliran Adler memandag kualitas hubungan terapeutik sebagai hal yang relevan dengan hasil akhir dari terapi, mereka tidak berasumsi bahwa hubungan ini saja akan bisa menghasilkan suatu perubahan. Ini merupakan titik awal dari proses perubahan. Tanpa ada permulaan adanya rasa percaya serta hubungan yang saling mempercayai tugas sulit untuk mengubah gaya nampaknya tidak akan terjadi.

 

F. APLIKASI, TEKNIK DAN PROSEDUR TERAPEUTIK

Konseling aliran Adler dibangun mengitari empat tujuan sentral, yang sesuai dengan empat fase proses terapeutik (Dreikurs,1967). Fase-fase ini tidaklah linear dan tidak bergerak maju dengan langkah-langkah yang kaku, melainkan fase-fase itu akan bisa difahami sangat baiknya sebagai suatu jalinan benang yang nantinya akan membentuk selembar kain. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya maka tahap-tahap ini adalah:

  1. Menciptakan hubungan terapeutik yang tepat
  2. Menggali dinamika psikologi yang ada dalam diri kilen (analisis dan penilaian)
  3. Membangunkan semangat pengembangan rasa memahami diri sendiri (wawasan diri)
  4. Menolong klien menentukan pilihan-pilihan baru (reorientasi dan reedukasi)

Fase 1 : Menciptakan Hubungan

Konselor aliran Adler bekerja dengan cara saling mengisi dengan klien, jadi menambah rasa pertanggungjawaban atas kehidupan mereka. Hubungan ini didasari oleh rasa peduli, keterlibatan, dan persahabatan yang mendalam.

Salah satu cara untuk menciptakan hubungan terapeutik yang bisa berjalan adalah dengan diberinya klien pertolongan oleh konselor agar bisa menyadari akan aset dan kekuatan yang dimilikinya, dan bukan dengan menangani kekurangan-kekurangannya serta kewajiban yang harus dipikulnya. Oleh karena itu konelor aliran Adler berfokus pada dimensi positif dan menggunakan dorongan semangat serta dukungan. Selama fase permulaan ini hubungan ini dilakukan dengan jalan mendengarkan, memberi tanggapan, menunjukkan sikap, menghormati kapasitas klien untuk bisa berubah, dan menunjukkan rasa antusiasme yang jujur.

Penganut Adler lebih banyak menaruh perhatian pada pengalaman klien yang subyektif kemudian menggunakannya sebagai teknik. Mereka sesuaikan teknik mereka pada kebutuhan masing-masing klien. Selama fase permulaan dari konseling teknik utama adalah hadlir dan mendengarkan, mengidentifikasi dan mencari kejelasan sasaran, serta memberikan empati. Hadlir mencakup juga mengaktifkan perilaku seperti bertatap mata dan secara psikologis selalu siap untuk berhubungan dengan kilen. Mendengarkan mencakup menangkap pesan klien, baik yang verbal maupun non verbal.

Fase 2 : Menggali Dinamika Individual

Pada fase kedua penggalian klien ada tujuan ganda: memahami gaya hidup mereka dan melihat betapa itu semua mempengaruhi dia dalam menjalankan tugas hidup yang dilakukan sekarang. Konselor memulai penilaian permulaannya dengan mencari perlakuan apa saja yang dikerjakan oleh klien dalam berbagai aspek kehidupannya. Penganut aliran Adler menolong klien untuk menghubungkan perilaku masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Konselor mengadakan eksplorasi tentang bagaimana si klien berfungsi dalam kaitannya dengan tugas hidup untuk bisa mencintai, bekerja, bersahabat, dan sebagai anggota masyarakat. Klien diharapkan untuk mengatakan kepada konselor tentang hal-hal seperti ini dan juga memberitahukan apa yang ingin mereka perbaiki atau ubah. Konselor aliran Adler terutama tertarik untuk ingin mengetahui cara seseorag memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Seperti yang diamati oleh Mozdzierz, dkk. (1984), penganut aliran Adler berfungsi sebagai “pengeksplorasi psikologis”, oleh karena mereka mengundang klien untuk bergabung dalam suatu perjalanan sepanjang masa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang mungkin bisa terjadi. Mereka menolong klien untuk menggali peluang terjadinya pertumbuhan dan jalan menuju ke masa depan yang lebih konstruktif dan produktif.

  • Konstelasi keluarga
  • Kenangan masa kecil
  • Mimpi
  • Prioritas
  1. Pribadi superior
  2. Pribadi pengontrol
  1. Pribadi penghindar
  2. Pribadi penyenang
  • Integrasi dan rangkuman
  • Proses pemberian semangat

 

Fase 3: Pemberian Semangat Untuk Pemahaman.

Meskipun para terapis aliran Adler pada dasarnya bersifat suka mendukung, mereka juga bersifat konfrontif , mereka tantang kliennya untuk mengembangkan mawas diri tentang tujuan yang keliru dan perilaku mengalahkan diri sendiri, pemahaman tentang tujuan serta sasaran yang tersembunyi ada kemungkinan untuk meuncul ke permukaan tidak hanya memlalui pembangkitan semangat serta tantangan tetaoi juga bisa lewat interrpretasi yang diberikan pada waktu yang tepat yang dinyatakan dengan hipotesis tentif, menskipun pemahaman dianggap oleh penganut adler sebagai suatu pelengkap yang kuat demi terjadinya perubahan perilaku, pemaman perilaku itu tidak dianggap sebagi prerekuisit, pemahaman dianggap sebagi langkah menuju perubahan.

Interpretasi adalah suatu teknik yang memberikan fasilitas pada proses didapatkannya wawasan diri, fokusnya adalah pada perilaku disini dan sekarang dan pada ramalan-ramalan dan antisipasi-antisipasi yang timbul dari kehendak seseorang, interpretasi penganut Adler dilakukan dilakukan dalam hubunganya dengan gaya hidup, yang ingin bisa dilakukan adalah menciptakan kesadaran akan tujuan hidup seseorang, sasaran serta maksud seseorang, logika yang ia miliki dan bagaimana logika itu dilakukan dan perilaku orang tersebut pada saat ini. Umumnya interpretasi di fokusksan pada prilaku dan kosekuensi yang ditimbulkan dan bukan pada penyebab diterapkannya perilaku itu.

Fase 4: Menolong Agar Bisa Berorientasi Ulang

Tahap akhir dari proses teraputik adalah tahap berorientasi oada tindakan yang disebut riorentasi dan reduksi atau mengetrapkan wawasan dala praktek. Tahap ini memfokuskan pada menolonga orang melihat alternative yanga baru dan lebih fungsional

  • Tindakan langsung

Teknik yang dikenal dengan nama tindakan langsung ini merupakan tindakan penanganan terhadap apa yang terjadi pada saat sesi konseling berlangsung. Teknik ini bisa menolong konseli melihat bagaimana kejadian yang sedang berjalan di sesi konseling.

  • Niat yang paradoksal

Adler telah merintis strategi paradoksal sebagai cara untuk mengubah perilaku. Teknik ini juga disebut “penuntun gejala” dan “antisugesti”. Teknik ini melibatkan klien yang secara sadar menaruh perhatian serta membesar-besarkan pikiran serta perilaku yang merapuh. Strategi paradoksal terdiri dari intervensi terapeutik yang nampaknya kontradiktif, bahkan tidak masuk akal. Esensinya adalah bahwa teknik itu menggabungkan diri dengan menentang konseli dan bukan melawannya. Teknik ini berisi sifat-sifat empati, pembangkit semangat, dan humor serta menjurus ke minat social yang semakin meningkat (Mozdzierz, Macchitelli, & Lisiecki, 1976). Adler menggunakan strategi paradoksal untuk menangani insomnia dan ketegangan.

  • Berandai-andai

Terapis dapat menciptakan situasi bermain peran di mana klien membayangkan dan melakukan sesuatu yang ingin mereka lakukan. Mereka bisa didorong semangatnya untuk memerankan apa yang ada di angan-angannya paling tidak selama seminggu, hanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

  • Menuang tuba di mangkuk susu klien

Konselor menentukan usaha itu dan imbalan dari suatu perilaku untuk kemudian memorak-porandakan dengan jalan mengurangi kemanfaatan perilaku itu di depan mata konseli.

  • Menangkap diri sendiri

Dalam proses menangkap diri sendiri, konseli menjadi sadar bahwa ia berperilaku menghancurkan diri sendiri atau memiliki gagasan yang irasional tetapi tidak melakukan usaha menyalahkan dirinya sendiri. Mula-mula, konseli mungkin terlambat menangkap dirinya sendiri, yaitu setelah terbelit oleh pola lama. Melalui latihan, mereka bisa belajar mengantisipasi  peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi.

  • Menekan tombol

Teknik tekan tombol mencakup menyuruh konseli membayangkan pengalaman yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan secara bergantian, kemudian menaruh perhatian pada perasaan yang menyertai pengalaman itu. Konseli diminta untuk memutar kembali peristiwa yang terakhir dan menambahkannya dengan perasaan yang diciptakan sebagai hasil akhir dari suatu pemikiran. Konselor menyuruh konseli untuk kembali pulang dengan bekal dua buah “tombol” (tombol depresi dan tombol bahagia) dan konseli bisa memilih mana yang akan ditekan kalau nanti menemui suatu peristiwa. Tujuan teknik ini adalah mengajar konseli bahwa sesungguhnya ia bisa menciptakan perasaan apapun yang diinginkan dengan jalan menetapkannya dalam pikirannya (Mosak, 1989).

  • Tidak ingin menjadi manusia cengeng

Konseli pergi ke kegiatan konseling dengan berbekalkan pola menaklukkan diri sendiri yang dilakukannya sehari-hari. Mereka mungkin terikat pada suatu asumsi yang keliru karena prasangka seperti itu memang ada akibatnya. Mereka akan beranggapan bahwa hanya konselor yang peduli dengannya dan bisa menolongnya. Asumsi seperti itu harus dihilangkan, karena peran seorang konselor adalah memandirikan konseli.

  • Pemberian tugas serta komitmen

Dalam pengambilan langkah konkrit untuk menyelesaikan problema, konseli perlu menyediakan tugas dan berkomitmen dengan tugas-tugas itu. Rencanapun harus disusun untuk suatu jangka waktu yang tak terbatas. Dengan jalan ini, konseli bisa berhasil dalam melakukan beberapa tugas yang spesifik dan kemudian mereka bisa mengembangkan rencana baru dengan penuh percaya diri.

  • Mengakhiri dan merangkum sesi

Konselor tidak boleh mengambil materi baru pada suatu sesi menjelang berakhir. Melainkan, konselor menolong konseli untuk mengkaji ulang apa yang telah dipelajari. Kaji ulang in merupakan waktu yang tepat untuk mendiskusikan “pekerjaan rumah” yang berorientasi pada perbuatan yang bisa dilakukan konseli dalm seminggu.

G. KAWASAN APLIKASI

1. Aplikasi pada pendidikan

Adler mempunyai minat yang mendalam dalam menerapkan gagasannya pada pendidikan, terutama dalam hal mencari jalan untuk mengobati gaya hidup yang salah dari pelajar. Dia memulai suatu proses untuk bekerja dengan siswa dalam kelompok dan untuk mendidik orang tua dan guru. Dengan membekali guru dengan cara-cara untuk mencegah dan membetulkan kesalahan dari anak-anak, ia mencari untuk mempromosikan minat social dan kesahatan mental pada anak-anak.

2. Aplikasi pada pendidikan orang tua

Kawasan pendidikan orang tua merupakan satu dari sumbangan besar yang telah diberikan oleh penganut Adler. Sasarannya adalah untuk memperbaiki hubungan antara orang tua dengan anak dengan jalan menciptakan pengertian dan penerimaan dengan baik. Topic permulaan mencakup pemahaman tujuan dari kenakalan anak-anak, belajar mendengarkan, menolong anak-anak agar bisa menerima konsekuensi dari perilakunya, mengadakan pertemuan keluarga, dan menggunakan dorongan semangat.

 

 

3. Aplikasinya pada konseling perkawinan

Terapi perkawinan aliran Adler dirancang untuk menilai apa yang dipercayai oleh pasangan suami istri dan perilakunya bersamaan dengan mendidik mereka dengan cara yang efektif untuk bisa mencapai sasaran mereka. Dalam teknik ini, pasangan diajarkan teknik yang spesifik yang dapat memacu komunikasi dan kerja sama.

4. Aplikasi pada konseling keluarga

Penganut Adler yang menangani keluarga, memfokuskan suasana dalam keluarga, konstelasi keluarga dan gaya hidup setiap anggota keluarga itu. Suasana dalam keluarga adalah iklim yang mewarnai antara orang tua dan sikap mereka terhadap hidup peran seks, pembuatan keputusan, kerja sama, menangani konflik, tanggung jawab, dan lain-lain.

5. Aplikasi pada tugas kelompok

Kelompok memberikan konteks sosial di mana para anggotannya dapat mengembangkan rasa menjadi bagian dari kelompok dan rasa komunitas. Dinkmeyer (1975) menulis bahwa anggota kelompok akan mengetahui banyak problema yang bersifat antar pribadi, bahwa perilaku mereka memiliki makna sosial, dan bahwa sasaran yang ingin mereka capai dapat dipahami dengan sangat baik hanya dalam kerangka tujuan sosial.

 

H. TUJUAN KONSELING

  • Mendorong adanya interes sosial
  • Menolong klien mengatasi perasaan patah semangat dan rendah diri
  • Memodifikasi pandangan klien pada sasaran – yaitu, dengan merubah gaya hidup mereka
  • Mengubah motivasi yang keliru
  • Membantu klien merasakan kesamaan derajat dengan orang lain
  • Membantu orang menjadi anggota masyarakat yang ikut memberikan sumbangannya

I. KELEBIHAN  PENDEKATAN ALIRAN ADLER

Pendekatan Adler memberi para praktisi kebebasan yang besar untuk menangani klien.Konselor aliran Adler tidak harus mengikuti prosedur yang khas, melainkan menggunakan perkiraan linik mereka dalam hal pengapikasian beraneka ragam teknik yang mereka kira paling cocok untuk klien tertentu.

Konsep aliran Adler yang paling sering diambil dala hal menangani klien adalah (1) pentingnya memperhatikan sasaran hidup seseorang, termasuk di dalamnya memfokuskan pada arah mana sasaran itu akan membawanya; (2) memfokuskan pada pengalaman masa kanak-kanak seseorang dalam keluarga, dengan penekanan pada dampaknya di masa kini; (3) penggunaan secara klinis dari kenangan jauh di masa lalu; (4) perlunya memahami dan berkonfrontasi dengan kesaahan mendasar; (5) penekanan kognitif, yang berisi bahwa emosi dan perilaku seseorang sebagian besar terpengaruh oleh keyakinan seseorang dalam proses berpikirnya; (6) gagasan untuk menyelasaikan rencana tindakan yang didesain untuk menolong klien membuat perubahan; (7) hubungan saling membantu, di mana klien dan terapis bekerja menuju ke arah sasaran yang sudah saling disetujui; dan (8) penekanan yang diberikan pada dorongan semangat sepanjang seluruh kegiatan proses konseling.

J. KETERBATASAN DAN KRITIK TERHADAP PENDEKATAN ALIRAN  

    ADLER

Adler sadar akan keterbatasan waktu yang dimilikinya, dan ia pun harus memilih antara mengabdikan dirinya dalam usaha memformalkan teorinya dan mengajar orang lain tentang konsep dasar dari Psikologi Individual. Yang diprioritaskan adalah berpraktek dan mengajar, dan bukan mengorganisir serta menyajikan teori terdefinisi baik serta sistematik. Oleh kerna itu, gaya penulisannya sering kali susah diikuti. Banyak gagasannya yang sedikit longgar dan terlalu disederhanakan.

Meskipun Psikologi Individual telah mengalami perkembangan lanjutan serta pembenahan, banyak formulasi asli dari Adler  dipaparkan  sedemikian  rupa hingga hipotesis dasarnya susah untuk divalidkan secara empirik. Beberapa dari konsep dasarnya bersifat global dan susah untuk didefinisikan, seperti misalnya pernyataan tentang pergulatan untuk mecapai superioritas, kekuatan kreatif dari pribadi, dan kompleks inferioritas. Adler dikritik karena mendasar sebagian besar dari pendekatannya dengan psikologi secara umum dan karena terlalu menyederhanakan konsep yang komplek

PENUTUP

 

Adler telah jauh melampaui jamannya, dan sebagian besar dari terapis kontemporer telah mengambil paling tidak beberapa dari gagasan-gagasannya. Psikologi individualnya berasumsi bahwa orang dimotivasi oleh faktor sosialnya; bertanggung jawab atas perasaan, gagasan, dan perbuatna mereka sendiri; pencipta hidup mereka sendiri, sebagai lawan dari korban yang tidak berdaya; dan dipaksa oleh tujuan dan sasaran, lebih banyak memandang ke masadepan dan bukan menengok ke masa lalu.

Sasaran dasar dari pendekatan Adler adalah menolong klien untuk bisa mengidentifikasi dan mengubah keyakinan yang keliru tentang hidup dan oleh karenanya lebih berpartisipasi secara penuh di dalam kehidupa sosial.Klie idak dipandang sebagai orang yang sakit mental tetapi orang yang patah semangat. Proses terapeutiknya adalah menolong mereka hingga menjadi sadar akan pola mereka dan membuat beberapa perubahan yang mendasar pada keyakinan dan pikiran, yang akan menuju ke perubahan terhadap cara mereka mengendalikan perasaan da berperilaku. Peranan keluarga dalam pengembangan individu mendapat tekanan di sini.Tetapi adalah usaha bersama, dibangun berdasarkan kontrak dan didorong ke arah tantangan terhadap klien untuk menerjemahkan wawasan mereka menjadi perbuatan di dunia nyata.

Terapis aliran Adler sangat kaya akan ide dalam hal pengguanaan berbagai metode. Pandangan penganut Adler bisa diterapka pada beraneka ragam hubungan antara hubungan antar manusia, termasuk, tetapi tidak terbatas pada, konseling individual dan kelompok, terapi keluarga dan terapi perkawinan, dan peningkatan daya tahan terhadap goncangan problema.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2011 in Bimbingan Konseling (BK)

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: